NUTRIZI DAN SUMBER
ENERGI
MAKALAH
ditujukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah kesehatan olahraga
oleh :
FIPTAH MUTAKIN NIM
1001385
PRODI ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN
KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS PENDIDIKAN
OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN
INDONESIA
BANDUNG
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah
Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “entrepreunership in sport industri”. Makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas mata kuliah kesehatan olahraga.
Walau tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang kami
hadapi, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Subhanau
wata’ala.
Walaupun demikian makalah ini masih terdapat
kekurangan dan belum dikatakan sempurna karena keterbatasan kemampuan kami.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca
dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi
kita semua.
Bandung,
6 Juli 2012
penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Di dalam
dunia olahraga, tidak hanya metode latihan atau juga bakat yang akan menentukan prestasi yang dapat diraih oleh seorang atlet namun konsumsi nutrisi yang tepat dalam
sehari-hari secara
langsung juga
akan memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan performa
serta prestasi yang dapat
diraih oleh seorang atlet. Oleh karena itu, atlet yang memiliki tingkat kegiatan aktivitas fisik yang tinggi
akan membutuhkan konsumsi nutrisi
yang tepat komposisinya agar
ketersediaan
sumber energi di dalam tubuh
dapat tetap terjaga baik
untuk menjalankan aktivitas sehari-hari maupun saat
akan menjalani program
latihan maupun saat akan
bertanding .
Kombinasi antara
rutinitas latihan dengan frekuensi yang dapat mencapai 2x perhari-nya serta
kemudian dilanjutkan dengan pertandingan pada
akhir minggu
seperti pada kompetisi sepakbola
nasional ataupun kompetisi
olahraga lainnya,
menyebabkan atlet akan
membutuhkan jumlah asupan energi (kalori) yang besar
untuk mendukung aktivitasnya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan energi, seorang atlet secara umum disarankan untuk memenuhi
kebutuhannya dengan
kombinasi
sebesar 50% atau
secara
ideal
55-65%
melalui
konsumsi karbohidrat, 20-35%
melalui konsumsi lemak serta 12-15% melalui
konsumsi protein.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk dapat membekali pengetahuan,
nutrisi atau asupan energi, serta kiat pemenuhan kebutuhan energi dan sumber
energi.
Berdasarkan hal di atas, makalah ini akan membahas energi saat olahraga dan kebutuhan karbohidrat bagi atlet.
Untuk lebih jelasnya akan kita bahas lebih lanjut dalam makalah ini.
B.
Pembatasan
Masalah
Untuk
memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalaah yang akan dibahas dibatasi
pada masalah :
1. Energi pada saat olahraga
2. Kebutuhan karbohidrat bagi atlet
C.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Apa kebutuhan energi kita pada saat olahraga?
2. Bagaimana kebutuhan karbohidrat bagi atlet?
D.
Tujuan
Penyusunan
Tujuan
penyusunan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan :
1. Supaya
pembaca mengetahui kebutuhan energi
pada saat olahraga
2. Supaya
pembaca mengetahui berapa kebutuhan
karbohidrat bagi atlet
BAB II
PEMBAHASAN
1.a Energi
Saat Olahraga
Kebutuhan energi pada saat berolahraga
dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi yang
tersimpan di dalam tubuh yaitu me l al ui
pe
mbak ar an k arb o h id r a t, p emb ak ar an lemak,
serta kontribusi
sekitar 5% mela lu i
p emec a h a n protein. Diantara ketiganya,
simpanan protein bukanlah merupakan sumber
energi yang langsung
dapat digunakan oleh tubuh dan protein baru akan terpakai jika
simpanan karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Pe ngg unaan
an
tara l e m ak ataupun
karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energi untuk dapat mendukung
kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas serta durasi
olahraga yang dilakukan.
Pada olahraga intensitas rendah (±25 VO2 max) dengan waktu durasi yang panjang
seperti jalan kaki atau
lari-lari kecil, pembakaran
lemak akan memberikan kontribusi
yang
lebih besar dibandingkan dengan pembakaran
komposisinya agar ketersediaan
sumber energi di dalam tubuh
dapat tetap terjaga baik
untuk menjalankan aktivitas sehari-hari maupun saat akan
menjalani program latihan maupun saat akan
bertanding .
Kombinasi
antara rutinitas
latihan dengan frekuensi
yang dapat mencapai 2x perhari-nya serta
kemudian dilanjutkan dengan pertandingan pada
akhir minggu
seperti
pada kompetisi
sepakbola
nasional ataupun kompetisi
olahraga lainnya,
menyebabkan atlet akan
membutuhkan jumlah karbohidrat dalam hal produksi energi tubuh.
Namun walaupun lemak akan berfungsi
sebagai sumber energi utama tubuh
dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan
karbohidrat tetap akan dibutuhkan oleh tubuh untuk menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk mempertahankan level glukosa darah.
Pada olahraga intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada olahraga beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat akan berfungsi sebagai sumber
energi utama tubuh dan akan memberikan kontribusi
yang lebih besar dibandingkan dengan
pembakaran lemak dalam memproduksi energi di dalam tubuh. Kontribusi pembakaran karbohidrat sebagai
sumber energi utama tubuh akan meningkat hingga sebesar
100% ketika intensitas olahraga berada pada rentang 70-95%VO2 max.
1.b Ptotein
Protein merupakan salah satu jenis
nutrisi yang mempunyai fungsi penting sebagai bahan dasar bagi pembentukan
jaringan tubuh atau bahan dasar untuk memperbaiki jaringan-jaringan tubuh
yang telah rusak. Selain dari kedua fungsi tersebut, protein juga akan mempunyai fungsi sebagai
bahan pembentuk hormon dan pembentuk enzim yang akan kemudian juga
akan
terlibat dalam berbagai proses metabolisme
tubuh.
Kebutuhan protein bagi seorang
atlet
disebutkan berada berada
pada rentang 1.2-1.6 gr/kg berat
badan
per-harinya dan nilai ini
berada diatas kebutuhan
protein bagi non-atlet yaitu sebesar 0.6-0.8 gr/kg berat badan.
Peningkatkan kebutuhan
protein bagi atlet ini disebabkan oleh karena atlet lebih beresiko untuk mengalami
kerusakan jaringan ototn terutama saat menjalani latihan/pertandingan olahraga yang berat. Selain itu pada olahraga yang bersifat ketahanan (endurance) dengan durasi panjang sebagian
kecil asam amino dari protein
juga akan digunakan sebagai sumber energi terutama saat
simpanan glikogen sudah semakin berkurang. Oleh karena hal-hal tersebut
diatas
maka kebutuhkan konsumsi protein seorang
atlet
dalam kesehariannya akan relatif lebih besar jika dibandingkan dengan kebutuhan
non-atlet.
Pada saat berolahraga terutama olahraga yang bersifat ketahanan,
protein dapat memberikan kontribusi sebesar 3-5% dalam produksi
energi tubuh dan kontribusinya ini dapat
mengalami peningkatan melebihi 5%
apabila simpanan glikogen & glukosa darah sudah semakin berkurang sehingga tidak lagi
mampu untuk mendukung kerja otot.
Melalui asam amino
yang dilepas oleh otot atau yang berasal dari jaringan-jaringan
tubuh lainnya, liver (hati) melalui proses gluconeogenesis dapat mengkonversi asam amino atau substrat lainya menjadi glukosa untuk kemudian mengeluarkannya ke dalam aliran darah agar konsentrasi glukosa darah dapat
dipertahankan pada level normal. Namun pengunaan protein
sebagai sumber energi seperti yang telah disebutkan akan mengurangi fungsi
utamanya sebagai bahan pembangun
tubuh serta juga fungsinya untuk memperbaiki jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Selain itu, pembakaran protein sebagai sumber energi juga
akan
memperbesar resiko terjadinya dehidrasi akibat dari
adanya produk samping
berupa nitrogen yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
urin. Oleh karena itu untuk mencegah pemakaian protein secara
berlebihan sebagai
sumber
energi saat berolahraga,
seorang atlet diharapkan untuk
mengkonsumsi karbohidrat yang cukup agar dapat meningkatkan simpanan
glikogen dan juga dapat menjaga level glukosa darah di dalam
tubuh.
1.c Karbohidrat
Karbohidrat merupakan nutrisi sumber
energi yang tidak
hanya berfungsi untuk mendukung aktivitas fisik
seperti berolahraga namun karbohidrat
juga merupakan sumber energi utama bagi sistem pusat syaraf termasuk
otak. Di dalam tubuh, karbohidrat yang
dikonsumsi oleh manusia dapat tersimpan di dalam hati dan otot sebagai simpanan energi dalam bentuk glikogen.
Total
karbohidrat yang dapattersimpan
di dalam tubuh orang dewasa
kurang
lebih sebesar 500 gr atau mampu untuk men ghasilkan energi sebesar 2000 kkal. Di dalam tubuh manusia,sekitar 80% dari karbohidrat ini akan tersimpan sebagai glikogen di dalam otot, 18-22% akan tersimpan sebagai glikogen di dalam hati dan sisanya akan bersirkulasi di dalam aliran darah dalam
bentuk glukosa.
Pada saat berolahraga terutama olahraga dengan
intensitas moderat-tinggi,
kebutuhan energi bagi tubuh dapat terpenuhi
melalui simpanan glikogen, terutama glikogen otot serta melalui simpanan glukosa yang
terdapat di dalam aliran darah (blood
glucose) dimana ketersediaan
glukosa di dalam aliran darah ini dapat dibantu oleh glikogen hati agar levelnya tetap berada
pada keadaan normal. Proses
pembakaran 1 gram karbohidrat akan menghasilkan energi sebesar
4 kkal. Walaupun
nilai ini relatif lebih kecil
jika dibandingkan dengan energi
hasil pembakaran lemak, namun proses metabolisme energi karbohidrat
akan
mampu untuk menghasilkan ATP (molekul dasar pembentuk energi) dengan kuantitas yang lebih besar serta dengan laju yang lebih
cepat jika dibandingkan dengan pembakaran lemak.
2. Simpanan
karbohidrat (glikogen)
Jumlah simpanan
glikogen yang terdapat di dalam tubuh merupakan salah satu faktor
penentu performa seorang
atlet
. Atlet yang mengkonsumsi karbohidrat
dalam jumlah yang besar dalam
sehari-hari akan memilki
simpanan glikogen yang relatif lebih besar jika dibandingan dengan atlet yang mengkonsumsi
karbohidrat dalam jumlah yang kecil.
Dengan simpanan glikogen yang rendah, seorang atlet dalam
menjalankan latihan/pertandingannya
akan cepat
merasa lelah sehingga kemudian
mengakibatkan terjadinya
penurunan intensitas dan performa olahraga. Hal ini berbeda
dengan seorang atlet yang akan
memiliki performa dan ketahanan
yang lebih baik apabila
memiliki simpanan glikogen yang besar.
Perlu juga untuk diketahui bahwa glikogen yang terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan untuk
keperluan energi di dalam otot tersebut
dan tidak dapat dikembalikan
ke dalam aliran darah dalam bentuk glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkannya. hal ini berbeda dengan glikogen yang tersimpan di dalam
hati yang dapat di konversi menjadi glukosa melalui proses glycogenolysis ketika terdapat bagian tubuh
lain membutuhkan.
Walaupun jumlah karbohidrat yang
dapat tersimpan sebagai glikogen ini memiliki keterbatasan, namun kapasitas penyimpanannya
terutama kapasitas penyimpanan glikogen otot dapat
ditingkatkan dengan cara mengurangi konsumsi lemak dan memperbesar konsumsi bahan pangan kaya akan
karbarbohidrat seperti
roti, kentang,
jagung,singkong atau juga
pasta. Pengisian tubuh dengan
karbohidrat pada masa persiapan
ini biasanya dikenal
dengan istilah carbohydrate loading dan akan memberikan
manfaat terutama bagi atlet yang akan berkompetisi dalam cabang olahraga endurance atau atlet yang akan melakukan latihan/
pertandingan dengan durasi lebih dari 90 menit.
3.Kebutuhan
Karbohidrat Bagi
Atlet
Bagi seorang atlet, konsumsi karbohidrat minimum
yang disarankan adalah sebanyak 250 gr atau sudah
memenuhi kebutuhan
energi sebesar 1000 kkal. Walaupun
kebutuhan energi seorang
atlet
akan berbeda untuk tiap jenis olahraga, namun secara umum atlet diharapkan untuk memenuhi
kebutuhan energinya setidaknya 50% atau idealnya 55-65% melalui
konsumsi karbohidrat.
Kosumsi karbohidrat tinggi sehari-hari terutama sebelum
berolahraga bertujuan untuk meningkatkan simpanan glikogen di dalam tubuh dan untuk menjaga level glukosa di dalam darah sehingga laju produksi energi melalui pembakaran karbohidrat saat berolahraga dapat tetap terjaga.
Selain mengkonsumsi karbohidrat
yang tinggi dalam sehari-hari, seorang
atlet
juga akan mendapatkan manfaat dengan mengkonsumsi karbohidrat pada saat
berolahraga. Konsumsi karbohidrat
yang
dilakukan pada saat berolahraga , terutama
olahraga dengan waktu yang panjang
(> 45 menit)
dapat membantu tubuh dalam menjaga konsentrasi glukosa darah,
menjaga ketersediaan glikogen hati serta
menjaga agar laju pembakaran karbohidrat tetap tinggi sehingga terjadinya kelelahan
dapat ditunda.
Karbohidrat yang di konsumsi
pada saat berolahraga ini diperkirakan mampu
untuk memberikan kontribusi
hingga sebesar 16-20%
terhadap laju produksi energi di dalam tubuh.
Selain itu, pada olahraga yang
bersifat intermittiment /stop & go atau multisprints seperti sepakbola atau bola basket, karbohidrat yang
dikonsumsi juga dapat membantu tubuh dalam proses resintesis glikogen otot serta dapat juga membantu
untuk membatasi pemakaian glikogen otot.
3.1 sebelum
latihan / pertandingan
Atlet yang
akan berpartisipasi dalam latihan intensitas
sedang
dengan durasi pendek, disarankan untuk mengkonsumsi karbohidrat sebesar 5-7 gr karbohidrat/ kg berat badan per harinya. Sedangkan dalam persiapannya untuk menghadapi latihan endurans dengan intensitas moderat-tinggi atau dalam persiapannya untuk
menghadapi
pertandingan yang
kompetitif
,
atlet
direkomendasikan untuk
mengkonsumsi karbohidrat sebesar 7-12
gr / kg berat badan per harinya. Dan
atlet yang sedang menjalankan program
latihandengan total waktu antara
4-6
jam
per
hari,
disarankan
untuk memperbesar konsumsi karbohidratnya hingga 10-12 gr/ kg berat badan
per harinya.
Selain dari yang telah disebutkan , bagi atlet yang akan
berpartisipasi dalam pertandingan /latihan
dengan durasi waktu 90 menit, peningkatan simpanan
glikogen juga dapat dilakukan dengan mengkonsumsi
karbohidrat sebanyak 8-10 gr/kg berat badan dalam interval waktu 48 - 72 jam se be l um l a ti han/pe
rt andi ng an berlangsung. Konsumsi karbohidrat
ini dapat meningkatkan jumlah simpanan glikogen sebesar
25-100% dan dapat
menunda terjadinya
kelelahan pada saat latihan/pertandingan hingga 20%. S
e dang kan bag
i atl et yang akan berpartisipasi dalam pertandingan
dengan durasi waktu 60 menit. peningkatkan simpanan glikogen juga dapat dilakukan dalam interval waktu 6 jam sebelum pertandingan berlangsung dengan cara mengkonsumsi karbohidrat sebanyak 1-4 gr /kg berat badan. Beberapa contoh dari
bahan pangan yang kaya akan kandungan karbohidrat tinggi
dan dapat
dikonsumsi pada masa persiapan adalah kentang, donut, pasta, sereal, singkong, sebagian besar jenis nasi, roti putih, roti
gandum, atau juga buah-buahan seperti
pisang & apel.
Konsumsi karbohidrat yang
tinggi dalam
sehari-hari akan
membantu dalam meningkatkan
simpanan karbohidrat
(glikogen & glukosa
darah) di dalam tubuh sehingga juga
akan membantu meningkatkan laju pembakaran karbohidrat serta membatasi pemakaian asam lemak bebas (free
fatty acid) & protein sebagai penyedia energi pada saat berolahraga.
Salah satu contoh
dari banyaknya penelitian yang memperlihatkan peningkatan performa
olahraga melalui suplementasi karbohidrat ini pernah diterbitkan dalam Medicine in Sports Science pada
tahun 1979 melalui penelitian yang dilakukan oleh Costill, D.L. Pada penelitan ini, subjek yang mengkonsumsi
75 gr karbohidrat sederhana (glukosa) sebelum melakukan
olahraga bersepeda dengan intenistas
80%
VO2 max diperlihatkan mengalami
peningkatan performa ketahanan sebesar 10 menit (53.2 vs 43.2 menit) jika dibandingkan saat tidak
diberikan suplementasi karbohidrat.
3.2 setelah
latihan / pertandingan
Salah satu tujuan utama mengkonsumsi karbohidrat setelah selesainya olahraga adalah untuk
mengisi kembali simpanan glikogen yang terpakai sehingga kondisi
atlet dapat secara cepat dipulihkan
agar dapat
menjadi lebih siap untuk menghadapi sesi latihan atau pertandingan selanjutnya. Dalam kaitannya dengan penyimpanan glikogen setelah selesainya latihan/pertandingan olahraga, terdapat dua faktor utama yang harus
diperhatikan yaitu waktu konsumsi dan besarnya karbohidrat yang dikonsumsi
Pada saat setelah selesainya latihan/pertandingan olahraga dimana
simpanan glikogen berada pada jumlah terendah di dalam
tubuh, kadar enzim glycogen
synthetase
di dalam aliran darah akan
berada pada titik tertinggi
sehingga pemberian karbohidrat
pada masa ini secara efisien
akan mengisi kembali simpanan glikogen tubuh. Serta perlu
juga untuk diperhatikan bahwa laju penyimpanan
glikogen otot di dalam tubuh secara cepat juga akan terjadi
pada interval < 2 jam setelah selesainya kegiatan olahraga.
Pada interval waktu ini, peyimpanan glikogen otot akan berjalan secara cepat dengan laju 7-8 mmol/
jam, namun seiring dengan bertambahnya waktu, laju penyimpanannya akan kembali
berjalan secara normal dengan laju 5-6 mmol/jam. Oleh karena itu, untuk mempersingkat waktu pemulihan
(recovery) agar
performa dapat secara cepat terjaga untuk menghadapi latihan/pertandigan selanjutnya,
dalam interval 2 jam
setelah selesainya latihan atau pertandingan olahraga, atlet
direkomendasikan untuk mengkonsumsi
karbohidrat sebesar 50-100
gr atau
dapat juga mengkonsumsi 1-1.2
gr karbohidrat / kg berat
badan tiap jamnya dalam interval waktu 4 jam. Adapun
setelah melakukan
sesi latihan/pertandingan yang melelahkan,
total konsumsi karbohidrat yang diharapkan untuk dilakukan dalam interval 24 jam adalah
sebesar 600 gr.
Karena setelah
selesainya latihan/pertandingan
olahraga tubuh juga akan membutuhkan cairan, maka
kebutuhan karbohidrat
dan cairan secara
simultan dapat dipenuhi melalui
penambahan karbohidrat sederhana ke dalam
air putih atau juga dapat dilakukan dengan mengkonsumsi jus buah-buahan.
Perlu juga untuk diperhatikan bagi atlet yang memiliki
2x sesi latihan yang berjarak
8 jam, konsumsi karbohidrat diharapkan dilakukan secepat mungkin setelah selesainya sesi
latihan I agar waktu pemulihan
antara sesi latihan dapat berjalan lebih
efektif. Air putih yang ditambahkan karbohidrat
atau
buah-buahan
yang banyak mengandung air seperti
semangka atau melon dapat juga dipilih
untuk mempercepat proses peyimpanan energi dan membantu dalam proses rehidrasi. Selain itu, untuk lebih mengoptimalkan pengembalian energi ke dalam tubuh,
karbohidrat dengan nilai GI ( Gyicemix Index ) tinggi atau bahan pangan serta buah-buahan yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi seperti
pasta, roti, kentang, singkong, pisang atau juga semangka dapat juga
dikonsumsi dengan porsi kecil namun dilakukan secara
kontinu
dalam waktu 30, 120 dan 240 menit setelah berolahraga.
4.Konsumsi
Cairan & Karbohidrat Saat Berolahraga.
Ketika
durasi olahraga semakin panjang
dan simpanan glikogen otot
sudah semakin berkurang,
glukosa yang terdapat di dalam aliran darah dalam jumlah
terbatas dapat digunakan oleh tubuh untuk
mendukung kerja otot. Walaupun jumlah dari glukosa yang terdapat di dalam aliran darah hanya mampu untuk menghasilkan energi sebesar ±20 kkal namun konsentrasinya
ini dapat dipertahankan
melalui
dua cara yaitu
melalui
konsumsi karbohidrat
saat berolahraga
atau
melalui
proses glycogenolysis dan gluconeogenesis yang terjadi di dalam hati yang juga dapat menghasilkan glukosa.
Untuk menghambat terjadinya kelelahan
terutama bagi atlet endurance serta untuk menjaga konsentrasi glukosa darah, jumlah
ideal konsumsi karbohidrat yang disarankan pada saat berolahraga adalah sebesar 30-60 gram /jam. Namun
karena pada saat olahraga tubuh juga akan membutuhkan cairan agar terhindar dari dehidrasi, maka kebutuhan
karbohidrat ini juga dapat dipenuhi melalui
konsumsi 600-1.500 ml air putih yang ditambahkan 24-100 gr karbohidrat (4-7% larutan karbohidrat) tiap jamnya.
Karbohidrat yang dikonsumsi pada
saat
berolahraga
ini diperkirakan
mampu untuk mempertahankan level glukosa di dalam darah
dan dapat membantu untuk menjaga
tingkat pembakaran karbohidrat di dalam tubuh sehingga terjadinya kelelahan
dapat dihambat hingga 30-60
menit. Selain itu pada saat berolahraga, konsumsi karbohidrat dengan nilai GI sedang-tinggi juga lebih
disarankan jika dibandingkan dengan mengkonsumsi
karbohidrat yang memiliki nilai GI rendah agar
energi secara cepat
dapat tersedia di dalam
tubuh.
5.Konsumsi
Karbohidrat &
Sport Performance
Hubungan antara pengaruh konsumsi karbohidrat
terhadap perfoma olahraga merupakan suatu
kajian ilmiah dalam bidang
Sports Science yang paling banyak dilpelajari di dalam dunia
olahraga. Penelitian-
penelitian yang mempelajari hubungan antara konsumsi karbohidrat dengan performa olahraga pada awalnya lebih banyak terfokus terhadap
jenis olahraga yang bersifat ketahanan (endurance) atau
olahraga dengan durasi
>
2 jam seperti lari marathon atau bersepeda jarak jauh. Penelitian-penelitian yang dilakukan saat ini
kemudian mulai dikembangkan pada jenis olahraga dengan intensitas tinggi
( 70% VO2 max) yang disertai dengan interval istirahat namun dengan durasi waktu yang lebih singkat yaitu antara 45 menit
– 2 jam. Jenis dari olahraga ini biasanya disebut
sebagai intermittent exercise atau ada juga yang menyebutkannya sebagai stop
& go exercise. Contoh
dari olahraga yang termasuk dalam kategori
ini adalah olahraga beregu
seperti sepakbola, bola basket, bola voli, hoki dan juga olahraga individual seperti
tenis, bulutangkis , tenis meja serta
jenis-jenis olahraga lain dengan aktivitas atletik yang berubah-ubah (multi sprints).
-Olahraga Endurance
Studi yang diakukan oleh Tsintzas dkk seperti
yang
dipublikasikan dalam International Journal of Sports Nutrition pada tahun 1993 merupakan salah satu dari banyaknya penelitian
yang
memperlihatkan pengaruh
positif konsumsi karbohidrat terhadap
perfoma olahraga ketahanan
(endurance). Pada penelitian ini, sesi latihan olahraga lari jarak jauh 30 km yang melibatkan 7 atlet lari jarak jauh profesional dilakukan dengan 2 kondisi yang berbeda, dimana dalam tiap sesi latihan yang terpisah dalam interval waktu 10 hari ini,
atlet-atlet
profesional
tersebut
akan diberikan konsumsi air putih
biasa atau air putih yang ditambahkan
dengan karbohidrat.
Konsumsi tersebut kemudian
akan diberikan sebanyak
250 ml sebelum latihan dimulai dan diberikan secara kontinu sebanyak 150 ml setiap 5 km. Hasil
dari penelitian ini kemudian memperlihatkan bahwa
atlet professional
yang
diberikan suplementasi karbohidrat dapat
menyelesaikan sesi latihan lari jarak jauh 30 km dengan waktu yang lebih cepat (128.3±19.9 menit
vs 131.2±18.7 menit) jika
dibandingkan ketika hanya
mengkonsumsi
air putih biasa.
Salah satu penelitian lain yang
mempelajari pengaruh konsumsi karbohidrat
terhadap performa olahraga endurance juga
pernah dilakukan oleh Ivy J.L. seperti yang telah dipublikasikan
dalam Medicine & Science in Sports & Exercise tahun 1979. Di dalam penelitian ini, atlet sepeda terlatih akan diberikan konsumsi
larutan pembanding non-karbohidrat pada sesi latihan Idan akan diberikan konsumsi
air putih yang ditambahkan karbohidrat glukosa sebanyak 0.2 gr/kg berat tubuh pada sesi latihan yang II. Konsumsi
larutan ini kemudian akan
diberikan tiap 15 menit selama 90
menit pertama dalam
sesi olahraga bersepeda yang akan berlangsung selama 2 jam. Hasil dari penelitian ini kemudian
menunjukan peningkatan kapasitas kerja sebesar 11% dalam 30 menit terakhir
ketika subjek
diberikan larutan yang diberikan tambahan karbohidrat.
Pengaruh positif konsumsi karbohidrat
dalam kegiatan olahraga endurans
ini diperkirakan disebabkan oleh adanya tambahan
glukosa dari hati ke dalam aliran darah
sehingga level glukosa
di dalam darah dapat dipertahankan.
Pada awal berolahraga, ketika tubuh masih memilki simpanan
glikogen yang cukup, karbohidrat (glukosa) yang terdapat di dalam
aliran darah hanya akan memberikan kontribusi
sebesar
25% terhadap
laju produksi energi melalui
pembakaran karbohidrat, namun dengan semakin
bertambahnya waktu , ketika
persediaan simpanan glikogen
otot semakin terbatas, glukosa
yang tedapat di dalam aliran darah
kemudian akan berfungsi sebagai
sumber energi utama tubuh. Karena karbohidrat yang
dikonsumsi saat berolahraga juga dapat tersimpan di dalam hati, maka ketika tubuh membutuhkan tambahan
energi, hati kemudian
akan mengeluarkan glukosa ke dalam aliran darah sehingga level glukosa darah & laju pembakaran karbohidrat
dapat dipertahankan. Proses
inilah yang
kemudian akan
membantu untuk
menghambat terjadinya kelelahan dalam
olahraga ketahanan
yang biasanya berdurasi panjang.
-
Intermittent Exercise
Hasil-hasil penelitian yang mempelajari hubungan antara konsumsi karbohidrat pada olahraga
intermittent / stop & go atau multi sprints juga menyimpulkan bahwa
karbohidrat yang dikonsumsi akan
berperan dalam mempertahankan
level
glukosa darah
(blood
glucose) sehingga
dapat memberikan kontribusi
terhadap laju
produksi energi di dalam otot.
Tambahan energi yang diperoleh dari glukosa
d arah in i d ip erkirak an d ap a t be rfungsi se bag ai pe mba t as pemakaian glikogen otot atau juga dapat berfungsi sebagai katalis pada proses
resintesis glikogen selama interval istirahat.
Salah satu dari contoh penelitian yang mempelajari pengaruh konsumsi karbohidrat dalam intermittent exercise
adalah penelitian yang dilakukan oleh C.W. Nicholas dan C. Williams seperti yang
telah diterbitkan dalam Journal of Sports Science pada tahun 1995. Pada penelitian ini, subjek yang digunakan adalah
9 atlet sepakbola yang melakukan 2 kali latihan simulasi
aktivitas atletik seperti
yang terjadi dalam
olahraga beregu seperti sepakbola, rugby atau bola basket.
Sesi latihan ini terpisah dalam interval
7 hari dan pada tiap sesi latihannya subjek
akan diberikan air putih
yang ditambahkan karbohidrat dan larutan pembanding non-karbohidrat. Larutan tersebut kemudian dikonsumsi sebanyak 5 ml / kg berat badan
sebelum latihan berlangsung dan tiap 15 menit dengan volume 2 ml
/kg berat badan
selama latihan
berlangsung. Sesi latihan ini
terdiri dari 15 menit sprint, 15 menit jogging, 15
menit berjalan dan
15 menit istirahat dan dilanjutkan dengan periode intermittent running
pada 55% dan
95% VO2 Max sampai subjek
merasa letih. Hasil dari penelitian tersebut kemudian
memperlihatkan bahwa subjek yang
mengkonsumsi air putih yang tambahkan dengan
karbohidrat dapat
berlari 33% atau 2.2 menit lebih
lama (8.9 vs 6.7 menit) jika dibandingkan ketika menkonsumsi
larutan pembanding non-karbohidrat.
DAFTAR PUSTAKA
Referensi.
1. D. G. Jenkins,
J. Palmer and D. Spillman. The influence
of dietary carbohydrate on performance
of supramaximal intermittent exercise. European Journal
of Applied Physiology. Vol 67 No.4, 1993.
2. Chryssanthopoulos, C., Williams, C., Nowitz, A., Bogdanis. Skeletal muscle glycogen concentration and metabolic
responses following a high glycaemic carbohydrate breakfast. Journal of Sports Sciences. 2004.
3. Foster ,C., Costill, D.L., Fink ,W.J. Effects of preexercise feedings
on endurance performance.
Med Sci Sports. 1979
Spring; 11(1) 1-5.
4. El-Sayed M. S., Balmer, J., Rattu A. J. M. Carbohydrate ingestion improves endurance performance
during a 1 h
simulated cycling time trial. Journal of Sports Sciences. Vol. 15, No.2, pp. 223-230, 1997.
5. Coyle,E.F. Fluid and fuel intake during exercise. Journal of Sports Sciences. 22, 39–55, 2004.
6. Coyle,
E.F., Spriet, L., Gregg, S., Clarkson, P. Introduction to physiology
and nutrition for competitive sport. In:
Perspectives in Exercise Science and Sports Medicine.
Vol 7. Benchmark Press, Carmel IN, 1994.
7. Coyle,E.F. Carbohydrate Feeding during Exercise. International Journal
of Sports Medicine. Vol 13 Suppl 1, pp S126- S128, 1992.
8. Coyle. E. F. & S. J. Montain. Benefits of fluid replacement with carbohydrate during exercise. Medicine & Science in
Sports & Exercise, Vol. 24 No.9 Supplement, pp- S324-S330, 1992.
9. Coyle,
E.F. High and Low Carbohydrate Diet. Sports
Science Exchange. Vol 17 No.2. 2004.
10. Singh,R. Nutritional Requirements of Athletes Exercising in a Hot Environment. Malaysian Journal
of Nutrition. 11(2):
189-198, 2005.
11. Coggan, R.A. & Coyle, E.F. Effect of carbohydrate feedings during h&h-intensity
exercise. Journal of Applied
Physiology. 65(4): 1703-1X)9, 1988.
12. Dan Benardot. Advanced Sports Nutrition. Human Kinetics, Illinois, USA, 2006.
13. Ivy,J.L. Regulation of Muscle Glycogen Repletion,Muscle Protein Synthesis and Repair Following
Exercise.
Journal of Sports Science and Medicine. 3, 131-138,
2004.
14. Ivy, J.L. Carbohydrate Supplement During and Immediatlety Post Exercise. In: Fluid
Replacement & Heat
Stress.National Academy Press. Washington D.C. 1993.
15. National Athletic Trainers’ Association Position Statement: Fluid Replacement for Athletes. Journal of Athletic Training
,35(2):212–224, 2000.
16. IOC Consensus Statement on Sports Nutrition
2003. Journal of Sports Science,Vol 22 No.1, 2004.
17. I, Macdonald. Carbohydrates : Requirements and Dietary Importance & Metabolism of Sugars.Elsevier Science. 2003.
18. Coggan, R.A. & Coyle, E.F. Timing Of Carbohydrate Supplementation During Prolonged Strenous Exercise. In: Fluid
Replacement & Heat Stress.National Academy Press. Washington D.C. 1993.
19. Burke, L. M., Kiens, B., & Ivy, J.L. Carbohydrate & fat for training & recovery. Journal of Sports Sciences. 2004.
20. Foster, C., Costill, D.L., & Fink, M.J. Effects of preexercise feeding
on endurance performance.
Medicine & Science in
Sports. 1979.
21. Tarnopolsky, M.A., Gibola,
M., Jeukendrup, A.E. & Phillips,
S.M. Nutritional needs of elite endurance athletes. Part 1 :
Carbohydrate & fluid requirements. European
Journal of Sports Science.
5(1), 3-14, 2005.
22. S.C.Dennis & T.D.Noakes. Exercise Muscle.
Elsevier Science.
2003.
23. Josephson S. Recovery Nutrition. NCSA’s Performance Training Journal. Vol 2 No.5. 2003.
24. Jeukendrup,
A.E. High carbohydrate vs high fat diets in endurance sports. Sportmedizin und Sporttraumatologie.51(1), 17-23, 2003.
25. Essen,V.M. & Gibala,J.M. Failure of Protein to Improve Time Trial Performance
When Added to a Sports Drink.
Medicine & Science in Sports & Exercise, 38(8).1476-1483, 2006.
26. Laurie H. G.,Rauch, A. N., Bosch, Timothy D. N., Steven C. D., and John A. H. Fuel utilisation during prolonged low- to-moderate intensity exercise when ingesting water or carbohydrate. Pflügers
Archiv European Journal of Physiologi,
Vol 430 No.6, 1995.
27. Kobayashi, K & Sugiura, K. Effects of carbohydrate ingestion on sprint performance
following continous & intermittent exercise. Medicine & Science in Sports & Exercise. 30(11):1624-30, 1998.
28. www.nctc.ul.ie
33. www.fitness.gov
35. www.unh.edu
36. www.fao.org
BAB III
KESIMPULAN
Di dalam dunia olahraga juga digunakan untuk kesehatan rehabilitas dan
pencegahan, tidak hanya metode latihan atau olahraga saja yang akan menentukan kesehatan dan
prestasi namun konsumsi nutrisi yang tepat dalam
sehari-hari secara
langsung juga
akan memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan performa
serta kesehatan dan prestasi
yang dapat diraih oleh seorang atlet. Oleh karena itu, atlet yang memiliki tingkat kegiatan aktivitas fisik yang tinggi
akan membutuhkan konsumsi nutrisi
yang tepat komposisinya agar
ketersediaan
sumber energi di dalam tubuh
dapat tetap terjaga baik
untuk menjalankan aktivitas sehari-hari maupun saat
akan menjalani program
latihan maupun saat akan
bertanding .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar